Pemberontakan Taiping: Perang Sipil Paling Mematikan dalam Sejarah

Perang yang Tidak Diketahui Siapa-siapa

Antara tahun 1850 dan 1864, Cina mengalami perang sipil paling mematikan dalam sejarah manusia. Perkiraan konservatif menempatkan jumlah kematian pada 20 juta; beberapa cendekiawan berpendapat bahwa jumlah tersebut melebihi 30 juta. Untuk memberikan konteks: Perang Saudara Amerika, yang terjadi pada dekade yang sama, menewaskan sekitar 750.000 orang. Pemberontakan Taiping membunuh setidaknya dua puluh lima kali lebih banyak orang.

Namun, sebagian besar orang Barat belum pernah mendengarnya. Perang ini tidak muncul dalam kurikulum sejarah Barat standar, jarang ditampilkan dalam budaya populer, dan hanya menguasai sebagian kecil perhatian yang diberikan kepada konflik Eropa yang lebih kecil di era yang sama. Jurang ini lebih banyak bicara tentang pendidikan sejarah Barat daripada tentang signifikansi peristiwa itu.

Hong Xiuquan: Sang Cendekiawan yang Gagal

Asal usul pemberontakan ini sangat aneh menurut standar apa pun. Hong Xiuquan (洪秀全, Hóng Xiùquán, 1814–1864) adalah seorang guru sekolah desa Hakka dari provinsi Guangdong yang berulang kali gagal dalam ujian 科举 (kējǔ) — sistem ujian kekaisaran yang menentukan masuknya ke dalam pemerintahan. Setelah kegagalan keempatnya pada tahun 1843, dia mengalami gangguan mental dan menafsirkan kembali pamflet misi Kristen yang dia terima bertahun-tahun sebelumnya sebagai bukti bahwa dia adalah saudara laki-laki Yesus Kristus, yang dikirim oleh Tuhan untuk mendirikan kerajaan surgawi di bumi.

Ini bukanlah metafora. Hong benar-benar percaya bahwa dirinya adalah yang ilahi. Dia menarik pengikut di kalangan komunitas Hakka yang terpinggirkan di Cina selatan — kelompok etnis minoritas yang dimarginalkan oleh populasi Han Cina yang dominan dan sudah cenderung untuk memberontak terhadap Dinasti Qing (清朝 Qīng Cháo), yang mereka anggap sebagai pendudukan Manchu asing.

Kerajaan Surgawi Taiping

Pada tahun 1851, Hong mendeklarasikan pendirian Kerajaan Surgawi Taiping (太平天国 Tàipíng Tiānguó) dan melancarkan perang terbuka melawan pemerintah Qing. Gerakan Taiping menggabungkan elemen-Protestan Kristen (yang sangat terdistorsi melalui visi pribadi Hong), millenarianisme Cina, dan reformasi sosial radikal. Bacaan terkait: Pertempuran Red Cliffs: Pertempuran Paling Terkenal dalam Sejarah Cina.

Reformasi tersebut benar-benar revolusioner untuk zamannya. Kerajaan Taiping mewajibkan kesetaraan gender — perempuan dapat bertugas sebagai tentara dan administrator. Ini melarang pengikatan kaki, opium, alkohol, perjudian, dan prostitusi. Tanah akan didistribusikan secara merata. Kalender baru diterapkan. Struktur hierarki sosial tradisional Konfusianisme 朝代 (cháodài) ditolak demi negara teokratis.

Namun, dalam praktiknya, reformasi diterapkan secara tidak konsisten — Hong sendiri memiliki harem yang terdiri dari puluhan selir sembari mengajarkan austeritas moral — tetapi ambisi ideologisnya sangat luar biasa.

Jatuhnya Nanjing

Pada tahun 1853, pasukan Taiping menangkap Nanjing (南京 Nánjīng), kota kedua terpenting di Cina, dan menjadikannya sebagai ibukota mereka, menamainya Tianjing ("Ibukota Surgawi"). Pemerintah Qing dipermalukan. Selama sebelas tahun, Cina secara efektif memiliki dua ibukota dan dua pemerintahan, masing-masing mengklaim keabsahan dan otoritas.

Tentang Penulis

Pakar Sejarah \u2014 Sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah dinasti Tiongkok.

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit