Legalisme: Filsafat yang Membangun Sebuah Kekaisaran
Ada alasan mengapa Legalism (法家, Fǎ Jiā) adalah filsafat Tiongkok yang paling tidak populer. Konfusianisme terasa hangat — membahas tentang kebaikan, kesalehan filial, dan harmoni sosial. Taoisme terasa sejuk — berbicara tentang alam, spontanitas, dan mengikuti arus. Legalism terasa dingin. Ia berbicara tentang kekuasaan.
Secara spesifik, ia membahas bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan, bagaimana untuk mempertahankan kekuasaan, dan bagaimana menggunakan kekuasaan untuk membangun sebuah negara yang begitu kuat sehingga tidak ada yang bisa menantangnya. Ia tidak tertarik untuk menjadikan orang baik. Ia sangat berkepentingan untuk menjadikan orang taat.
Dan itu berhasil. Legalism adalah filsafat yang menyatukan Tiongkok. Dinasti Qin (秦朝, Qín Cháo, 221-206 SM) — dinasti pertama yang menyatukan seluruh Tiongkok di bawah satu penguasa — dibangun berdasarkan prinsip-prinsip Legaliste. Setiap dinasti yang mengikuti, tidak peduli seberapa Konfusian retorikanya, mengandalkan metode Legaliste untuk benar-benar memerintah.
Konfusianisme adalah apa yang dikatakan para kaisar Tiongkok sebagai keyakinan mereka. Legalism adalah apa yang sebenarnya mereka praktikkan.
Pemikir Inti
Legalism bukanlah sebuah sekolah tunggal dengan satu pendiri. Ini adalah konvergensi ide dari beberapa pemikir selama sekitar dua abad:
| Pemikir | Tiongkok | Pinyin | Periode | Kontribusi Utama | |-------------|------------|------------|------------------|------------------------------------------| | Shang Yang | 商鞅 | Shāng Yāng | ~390-338 SM | Hukum sebagai dasar kekuasaan negara | | Shen Buhai | 申不害 | Shēn Bùhài | ~400-337 SM | Teknik administrasi (术, shù) | | Shen Dao | 慎到 | Shèn Dào | ~395-315 SM | Kekuasaan posisional (势, shì) | | Han Feizi | 韩非子 | Hán Fēi Zǐ | ~280-233 SM | Mensintesis ketiga menjadi teori yang bersatu |Han Feizi adalah yang paling penting. Bukunya, Han Feizi (韩非子), adalah teks Legaliste yang definitif — sebuah analisis yang brilian dan tanpa ampun tentang kekuasaan politik yang terbaca seperti gabungan antara Sang Pangeran karya Machiavelli dan buku teks manajemen modern.
Ironisnya, Han Feizi adalah seorang murid dari filsuf Konfusian Xunzi (荀子, Xún Zǐ). Ia mengambil pandangan pesimistis Xunzi tentang sifat manusia — bahwa orang pada dasarnya egois — dan menarik kesimpulan logis: jika orang egois, Anda tidak bisa memerintah mereka dengan contoh moral. Anda harus memerintah mereka melalui insentif dan hukuman.
Tiga Pilar
Legalism bertumpu pada tiga konsep, yang disintesis oleh Han Feizi:
Fa (法) — Hukum
Hukum harus: - Tertulis: Tidak ada kebiasaan atau tradisi yang tidak tertulis. Segala sesuatu harus dikodifikasi. - Publik: Setiap orang harus mengetahui hukum. Ketidaktahuan bukan alasan. - Universal: Hukum berlaku sama untuk semua orang, dari bangsawan tertinggi hingga petani terendah. - Ditegakkan: Hukum tanpa penegakan lebih buruk daripada tidak ada hukum sama sekali.
Shang Yang, arsitek sistem hukum Qin, menunjukkan komitmennya terhadap penegakan hukum universal dengan sebuah insiden terkenal. Ketika putra mahkota Qin melanggar hukum, Shang Yang tidak bisa menghukum putra mahkota tersebut secara langsung (ia adalah pewaris tahta), jadi ia menghukum guru putra mahkota itu sebagai gantinya — secara publik, berat, dan tanpa pengecualian.
Pesannya jelas: tidak ada yang berada di atas hukum.