Legalism dan Dinasti Qin: Ketika Efisiensi Tanpa Amarah Membangun Sebuah Kerajaan

Filsafat yang Tidak Disukai Semua Orang (Tapi Digunakan Semua Orang)

Konfusianisme punya penggemar. Daoisme punya para romantis. Legalism (法家 Fǎjiā) tidak punya keduanya — ini adalah filsafat politik yang semua orang kecam namun tak seorang pun bisa benar-benar lepas darinya. Premis dasarnya suram: manusia pada dasarnya egois, moralitas tidak berguna untuk pemerintahan, dan hanya hukum yang ketat, hukuman berat, serta kekuasaan negara terpusat yang dapat menjaga ketertiban.

Ini bukan sesuatu yang ceria. Tetapi ini pasti sangat efektif. Legalism membangun kerajaan Cina pertama yang bersatu dan menciptakan struktur administrasi yang bertahan melewati dinasti (朝代 cháodài) yang menerapkannya, bertahan melalui dua milenium sejarah Cina. Lanjutkan dengan bacaan Filsafat Cina dalam Lima Menit: Konfusius, Laozi, dan Argumen yang Membentuk Sebuah Peradaban.

Para Pemikir Legalism

Tiga orang yang mendefinisikan filsafat Legalism:

Shang Yang (商鞅 Shāng Yāng, 390-338 SM) menjabat sebagai menteri utama negara Qin dan mengubahnya dari kerajaan terpencil menjadi kekuatan militer besar. Reformasinya sangat sederhana dan brutal: berikan hadiah berlimpah untuk keberhasilan militer, hukum kegagalan dan ketidakpatuhan dengan kejam. Di bawah Shang Yang, tentara Qin yang membawa kepala musuh mendapatkan tanah dan gelar bangsawan. Tentara yang gagal memenuhi kuota pembunuhan dihukum. Sistem itu berhasil — tentara Qin menjadi kekuatan paling ditakuti di Cina.

Han Fei (韩非 Hán Fēi, 280-233 SM) adalah teoritikus Legalism terbesar, ironisnya adalah murid dari guru Konfusianisme, Xunzi. Han Fei berargumen bahwa penguasa harus mengendalikan negaranya dengan tiga alat: hukum (法 fǎ), ketatanegaraan (术 shù), dan legitimasi (势 shì). Jangan percaya siapa pun. Hadiah dan hukuman harus diterapkan secara adil. Buat sistem yang begitu jelas dan dapat diprediksi sehingga kebajikan pribadi menjadi tidak relevan.

Li Si (李斯 Lǐ Sī, 280-208 SM) adalah perdana menteri yang membantu kaisar pertama (皇帝 huángdì) Qin Shi Huang menyatukan Cina. Li Si menerapkan kebijakan Legalist dalam skala kekaisaran: menyeragamkan hukum, ukuran dan berat, mata uang, dan sistem penulisan. Ia juga mengatur pembakaran buku dan eksekusi sarjana yang menentang rezim.

Ironi para pendiri Legalism sangat suram: Shang Yang dieksekusi oleh sistem hukum yang diciptakannya sendiri, Han Fei diracun di penjara oleh Li Si (teman sekelasnya), dan Li Si dieksekusi oleh kaisar Qin kedua. Filsafat yang mengajarkan kekuasaan tanpa ampun ini justru memakan korbannya sendiri.

Eksperimen Qin

Dinasti Qin (朝代 cháodài) (221-206 SM) adalah eksperimen besar Legalism. Dalam hanya lima belas tahun, kaisar pertama (皇帝 huángdì) mengubah Cina:

Standarisasi. Satu sistem ukuran dan berat, mata uang, dan tulisan menggantikan kekacauan perbedaan daerah. Sistem ujian(科举 kējǔ) belum berkembang, tapi infrastruktur birokrasi yang dibangun Qin nantinya akan mendukungnya.

Infrastruktur. Jalan raya, kanal, dan bagian-bagian awal dari Tembok Besar dibangun menggunakan tenaga kerja wajib secara besar-besaran. Jalur perdagangan Jalur Sutra (丝绸之路 Sīchóu zhī Lù) juga mulai terbentuk...

Tentang Penulis

Pakar Sejarah \u2014 Sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah dinasti Tiongkok.

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit