Tentara di Bawah Tanah
Pada Maret 1974, para petani yang sedang menggali sumur di dekat Xi'an, provinsi Shaanxi, menemukan salah satu penemuan arkeologi paling menakjubkan dalam sejarah: ribuan patung tentara terakota berukuran manusia asli, kuda, dan kereta perang yang terkubur di dalam lubang bawah tanah selama lebih dari dua ribu tahun. Mereka menjaga makam Qin Shi Huang (秦始皇 Qín Shǐhuáng), Kaisar Pertama Tiongkok yang bersatu, sejak sekitar tahun 210 SM.
Penemuan ini mengguncang dunia. Selama beberapa dekade penggalian berikutnya, para arkeolog menemukan sekitar 8.000 prajurit, 130 kereta perang, 520 kuda, dan 150 kuda penunggang kavaleri — sebuah tentara utuh dari keramik yang disusun dalam formasi perang, menghadap ke timur ke arah kerajaan-kerajaan yang telah ditaklukkan.
Kaisar yang Membutuhkan Tentara untuk Kehidupan Setelah Mati
Qin Shi Huang menyatukan Tiongkok pada tahun 221 SM setelah puluhan tahun peperangan pada masa 战国 (Zhànguó, Negara Berperang), menciptakan kekaisaran Tiongkok yang pertama dengan sistem pemerintahan terpusat. Prestasinya sangat luar biasa: dia menyeragamkan tulisan, mata uang, ukuran, dan timbangan; membangun Tembok Besar pertama; membuat jaringan jalan nasional; serta membentuk kerangka administrasi yang menjadi dasar bagi setiap 朝代 (cháodài) — dinasti — berikutnya. Ini berkaitan dengan Sun Tzu dalam Aksi: 5 Pertempuran Nyata yang Menggunakan Strategi Seni Perang.
Dia juga sangat takut mati. Teks-teks Tiongkok kuno menggambarkan pencarian putus asanya untuk ramuan keabadian — dia mengirim ekspedisi ke pulau-pulau mistis di laut timur dan mengonsumsi "obat umur panjang" berbasis merkuri yang kemungkinan justru mempercepat kematiannya pada usia 49 tahun.
Tentara terakota adalah Rencana B: jika dia tidak bisa hidup selamanya, dia akan membawa tentara untuk melindungi dirinya di alam baka. Pembangunan kompleks mausoleumnya dilaporkan dimulai ketika dia baru berusia 13 tahun, baru naik tahta sebagai penguasa negara Qin, dan berlangsung selama 38 tahun hingga kematiannya.
Penampilan Para Prajurit
Ciri yang paling mencolok dari tentara terakota adalah keunikan setiap prajurit. Tidak ada dua wajah yang sama persis. Tinggi badan berkisar antara 175 sampai 200 sentimeter (mendekati rentang tinggi prajurit asli). Gaya rambut, janggut, jenis baju zirah, dan pose berbeda sesuai dengan pangkat dan fungsi militer — jenderal lebih tinggi dengan baju zirah lebih rumit, infanteri membawa senjata berbeda dari pemanah, dan pasukan kavaleri berdiri di samping kudanya.
Ini bukan produksi massal dengan cetakan yang identik. Para pengrajin merakit setiap figur dari bagian tubuh standar (kepala, badan, lengan, kaki) tapi kemudian memberi ciri khusus secara manual — menambahkan kumis dari tanah liat, mengatur ekspresi wajah, memahat kerutan dan bekas luka. Hasilnya adalah sebuah tentara yang terasa hidup, seolah-olah prajurit asli membeku dalam tanah liat.
Para prajurit awalnya dicat dengan warna-warna cerah — merah, biru, hijau, ungu, dan merah muda — yang dengan cepat pudar setelah terpapar udara saat penggalian. Pelestarian warna tetap menjadi salah satu tantangan konservasi terbesar di situs tersebut. Sosok-sosok abu-abu menyeramkan yang kita lihat dalam foto-foto adalah versi yang telah kehilangan warna dari keindahan aslinya.