Skip to contentSkip to contentSkip to content

TITLE: Kegiatan Zheng He: Era Eksplorasi Maritim Tiongkok

· Dynasty Scholar \u00b7 5 min read

TITLE: Kegiatan Zheng He: Era Eksplorasi Maritim Tiongkok EXCERPT: Era Eksplorasi Maritim Tiongkok

Kegiatan Zheng He: Era Eksplorasi Maritim Tiongkok

Laksamana yang Memimpin Armada Harta Karun

Antara tahun 1405 dan 1433, Dinasti Ming (明朝, Míng Cháo) meluncurkan salah satu ekspedisi maritim paling ambisius dalam sejarah. Di balik kendali armada tersebut adalah Zheng He (鄭和, Zhèng Hé), seorang laksamana kasim Muslim yang memimpin armada yang jauh lebih besar daripada yang diproduksi Eropa selama satu abad ke depan. Tujuh perjalanan lautnya di Samudra Hindia bukanlah tentang penaklukan, tetapi merupakan latihan canggih dalam proyeksi kekuatan diplomatik yang menampilkan supremasi teknologi dan kepercayaan budaya Tiongkok pada awal abad ke-15.

Kapal harta Zheng He, atau baochuan (寶船, bǎochuán), adalah keajaiban teknik. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kapal-kapal terbesar memiliki panjang sekitar 400 kaki—meskipun para ilmuwan modern memperdebatkan dimensi ini, bahkan perkiraan yang konservatif menetapkannya sebesar 200-250 kaki, masih sangat besar dibandingkan dengan Santa Maria milik Columbus yang hanya berukuran 85 kaki. Istana terapung ini dilengkapi dengan sembilan tiang layar, kompartemen kedap air, dan akomodasi mewah untuk para diplomat dan pejabat. Armada itu sendiri terdiri dari lebih dari 200 kapal yang membawa hampir 28.000 orang, termasuk pelaut, tentara, dokter, astronom, penerjemah, dan pengrajin.

Orang di Balik Misi

Lahir sebagai Ma He (馬和, Mǎ Hé) sekitar tahun 1371 di provinsi Yunnan dari keluarga Muslim, jalur Zheng He menuju komando angkatan laut sama sekali tidak konvensional. Diculik sebagai anak selama kampanye militer Ming, ia dikebiri dan masuk ke dinas kekaisaran sebagai kasim. Kecerdasan dan kecakapan militernya menarik perhatian Pangeran Zhu Di, yang kemudian menjadi Kaisar Yongle (永樂帝, Yǒnglè Dì). Ketika Zhu Di merebut tahta pada tahun 1402, ia mengangkat pelayan setianya tersebut, memberinya nama keluarga Zheng dan gelar Grand Eunuch.

Motivasi Kaisar Yongle untuk meluncurkan ekspedisi ini sangat beragam. Secara resmi, perjalanan tersebut bertujuan untuk memperluas tianxia (天下, tiānxià)—konsep "semua di bawah langit"—dengan membawa kerajaan-kerajaan jauh ke dalam sistem tributari Tiongkok. Sang kaisar ingin menjadikan Tiongkok sebagai pusat yang tak terbantahkan dari dunia yang beradab, dengan penguasa asing mengakui supremasi Ming melalui misi tribut. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Yongle juga berharap untuk menemukan keponakannya yang dipaksa turun tahta, Kaisar Jianwen, yang diduga melarikan diri ke luar negeri. Selain itu, ekspedisi ini juga bertujuan untuk menekan pembajakan, membangun jaringan perdagangan, dan menunjukkan kekuatan Ming setelah pendiriannya yang penuh gejolak.

Tujuh Ekspedisi: Menjangkau Dunia Yang Dikenal

Ekspedisi Pertama (1405-1407): Membangun Kehadiran

Ekspedisi perdana Zheng He berangkat dari Nanjing pada tahun 1405, berlayar menyusuri pantai Tiongkok menuju Champa (sekarang Vietnam), lalu melintasi ke Jawa, Sumatra, dan Ceylon (Sri Lanka), sebelum mencapai Calicut di Pantai Malabar India. Perjalanan ini menetapkan rute dasar dan protokol diplomatik yang akan diikuti oleh ekspedisi selanjutnya. Armada membawa sutra, porselen, dan barang-barang mewah lainnya sebagai hadiah untuk penguasa asing, menunjukkan kekayaan dan keahlian manufaktur Tiongkok.

Di setiap pelabuhan, Zheng He menyampaikan edik-edik kekaisaran dan memberikan gelar kepada penguasa lokal yang setuju untuk mengirimkan upeti kepada istana Ming. Konsep Tiongkok tentang chaogong (朝貢, cháogòng), atau hubungan tributaris, berbeda secara fundamental dari kolonialisme Eropa. Alih-alih menguras sumber daya atau mendirikan pemukiman permanen, Ming berusaha untuk mendapatkan pengakuan atas superioritas budaya dan politik mereka. Penguasa asing yang berpartisipasi menerima hadiah yang murah hati sering kali melebihi nilai upeti mereka, bersama dengan hak perdagangan dan pengakuan kekaisaran.

Ekspedisi Kedua dan Ketiga (1407-1411): Memperluas Jaringan

Ekspedisi kedua dan ketiga mengikuti rute serupa tetapi memperluas jangkauan diplomatik Tiongkok. Zheng He mengunjungi Siam (Thailand), Cochin, dan berbagai pelabuhan di pantai India. Selama perjalanan ketiga, armada terlibat dalam sengketa suksesi di Ceylon, menangkap raja Alakeshvara yang bermusuhan dan membawanya ke Nanjing. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Ming dapat menegakkan ketertiban bahkan di negeri jauh, meskipun Tiongkok cepat-cepat memasang penguasa yang lebih kooperatif dan mundur, menunjukkan tidak ada minat dalam pendudukan permanen.

Ekspedisi ini juga memiliki tujuan ilmiah. Armada mencakup astronom yang melakukan pengamatan langit, kartografer yang membuat peta rinci, dan naturalis yang mendokumentasikan flora dan fauna asing. Peta Mao Kun (茅坤圖, Máo Kūn Tú), yang dilestarikan dalam traktat militer Wubei Zhi (武備志, Wǔbèi Zhì), menunjukkan pengetahuan navigasi yang canggih yang terkumpul selama perjalanan ini, termasuk arah kompas, profil pantai, dan pengukuran kedalaman.

Ekspedisi Keempat hingga Keenam (1413-1422): Menjangkau Afrika

Ekspedisi keempat menandai perluasan signifikan, dengan armada mencapai Hormuz di pintu masuk Teluk Persia dan berbagai pelabuhan di Semenanjung Arab. Yang lebih mencolok, kapal Tiongkok mencapai pantai Afrika Timur, mengunjungi Mogadishu, Malindi, dan negara-negara kota Swahili lainnya. Ekspedisi ini membawa kembali hewan-hewan eksotis termasuk jerapah, yang menggegerkan istana Ming. Jerapah diidentifikasi sebagai qilin (麒麟, qílín), makhluk mitologi yang kehadirannya melambangkan kebajikan penguasa—propaganda yang sempurna untuk legitimasi Kaisar Yongle.

Ekspedisi kelima dan keenam melanjutkan pola ini, dengan armada kembali dengan utusan dari lebih dari tiga puluh kerajaan. Kaisar Yongle menerima para dignitaris asing ini dalam upacara yang megah di Kota Terlarang (紫禁城, Zǐjìnchéng), menunjukkan kemewahan Ming. Misi tribut ini membawa tidak hanya barang-barang eksotis tetapi juga pengetahuan—informasi mengenai adat istiadat, geografi, dan situasi politik asing yang memperkaya pemahaman Tiongkok tentang dunia yang lebih luas.

Ekspedisi Ketujuh dan Terakhir (1431-1433): Lagu Angsa

Setelah kematian Kaisar Yongle pada tahun 1424, perjalanan harta karun menghadapi meningkatnya oposisi dari pejabat Confucian yang memandangnya sebagai

Tentang Penulis

Pakar Sejarah \u2014 Sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah dinasti Tiongkok.

Artikel Terkait

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit